Membaca buku merupakan kegiatan memahami teks bacaan
yang terdapat pada buku dengan tujuan untuk memperoleh informasi dari teks yang
dibaca. Buku, dengan segala ilmu pegetahuan yang terkandung di dalamnya memuat
banyak informasi yang bisa kita dapat. “Buku adalah jendela dunia. Buku adalah
gudang ilmu”. Kita sering menemukan atau mendengar kedua ungkapan tersebut,
tetapi kita belum sepenuhnya memahami makna yang terkandung dalam kedua
ungkapan itu. Kita biasa membaca buku hanya pada saat membutuhkan informasi
yang sudah kita ketahui terdapat dalam buku itu, maupun menyelesaikan tugas
yang mengharuskan membaca buku.
Perkembangan
teknologi yang pesat, memudahkan kita dalam mengakses berbagai informasi yang
jauh lebih cepat dibandingkan dengan buku. Internet, menjadi media yang selalu
bisa diandalkan dalam membantu seorang mahasiswa dalam mencari referensi tugas
yang dibutuhkan. Dalam kelebihannya, internet memiliki waktu yang sangat cepat
dalam mengakses segala informasi, akan tetapi internet memperbudak mahasiswa
dalam menangkap informasi tersebut. Mahasiswa biasanya hanya mengambil dan mengcopy paste
tulisan di internet tanpa membacanya terlebih dahulu. Hal tersebut menyebabkan
kurangnya pemahaman yang didapatkan oleh mahasiswa karena rasa keingintahuannya
yang menurun seiring dengan turunnya minat baca.
Rendahnya
minat baca buku pada mahasiswa dapat dilihat dari jumlah kunjungan perpustakaan
pada setiap kampus. Biasanya, perpustakaan kampus ramai saat sedang berlangsung
ujian. Selain itu, mahasiswa juga mengunjungi perpustakaan hanya pada saat
dosen sedang memberi tugas untuk berkunjung ke perpustakaan. Pada hari-hari
biasa, mahasiswa yang mengunjungi perpustakaan dengan tujuan murni untuk
membaca buku dan ingin mempelajari sesuatu yang baru bisa dihitung, ada juga
mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi untuk mencari referensi bahan dalam
proses pembuatan skripsinya. Yang sering dilakukan mahasiswa saat ini adalah
lebih memilih membuka internet untuk mencari segala pertanyaan dan informasi
yang mereka cari. Hal ini tentu menjadi penyebab turunnya minat baca buku pada
mahasiswa. Kemudahan yang diberikan oleh internet menjadikan mahasiswa sebagai
seorang yang cenderung malas untuk lebih memahami suatu bacaan, dan menjadikan
mereka kurang mandiri karena tidak adanya analisis dari bahan bacaan yang
dibaca sehingga langsung mengambil begitu saja dari internet tanpa membacanya
terlebih dahulu.
Membaca
buku merupakan hal yang perlu dibiasakan sejak dini. Salah satu faktor yang
menyebabkan minat baca pada mahasiswa rendah yaitu kurangnya kebiasaan yang
baik dalam hal membaca buku sejak dini. Dalam hal ini orang tua berperan
penting dalam menumbuhkan jiwa suka membaca buku dimulai dari usia dini.
Mahasiswa yang tidak terbiasa membaca buku sejak dinipun, menjadi enggan dan
malas untuk membaca buku.
Berdasarkan
survey yang dilakukan UNESCO pada tahun 2012 terhadap minat baca di 61 negara,
Indonesia hanya 0,001 persen atau menempati peringkat kedua terendah dari
negara yang disurvei. Sementara berdasarkan survei yang diliris Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna
internet di Indonesia mencapai 62 juta orang atau sekitar 24,23 persen
dari jumlah penduduk Indonesia. Survei APJII itu menunjukkan penduduk berusia
berusia 12-34 tahun mendominasi pengguna Internet di Indonesia dengan porsi
64,2 persen. Sedangkan kelompok pengguna berusia 20-24 tahun mencapai 15,1
persen dari total pengguna.
Dari
survey tersebut, kita bisa melihat betapa memprihatinkannya minat paca penduduk
Indonesia. Ditambah lagi pengguna internet berusia 20-24 tahun yang juga mendominasi,
yang di dalamnya termasuk usia mahasiswa. Seharusnya, mahasiswa sebagai seorang
berpendidikan yang selalu haus akan ilmu pengetahuan, di zaman sekarang ini
justru minim keingintahuan. Berbagai kegiatan yang dilakukan mahasiswapun lebih
banyak dihabiskan dengan membuang waktu dengan melakukan hal-hal yang kurang
menambah pengetahuan. Waktu luang yang banyak dimiliki mahasiswa ini tidak
banyak dihabiskan untuk membaca buku, mereka lebih memilih membuka ponselnya
untuk berselancar di internet.
Menyandang
gelar sebagai mahasiswa merupakan suatu kebanggan. Namun di sisi lain juga
menjadi tantangan. Betapa tidak, ekspetasi dan tanggung jawab yang diemban oleh
mahasiswa begitu besar, karena seorang mahasiswa merupakan agen perubahan.
Mahasiswa haruslah menjadi orang yang mampu memberikan solusi bagi permasalahan
yang sedang dihadapi oleh masyarakat, bangsa, dan negara. Menjadi mahasiswa
haruslah menjadi seoramg yang memiliki wawasan luas, sehingga mampu
berinteraksi secara aktiv dalam pembelajaran serta dapat menampilkan ide serta
pendapat yang mereka miliki untuk memecahkan suatu masalah. Lalu, apabila
sekarang mahasiswa saja sudah malas membaca buku dan minimnya rasa
keingintahuan yang mereka miliki, bagaimana mereka menyikapi perkembangan arus
globalisasi yang begitu pesat?
Perkembangan
teknologi tidak bisa dihindari lagi, seiring dengan perkembangan peradapan
manusia yang semakin maju. Akan tetapi, sebagai mahasiswa, apakah benar
membiarkan arus globalisasi yang semakin deras ini mengalir begitu saja? Dengan
mudahnya infoermasi yang bisa didapat, tidak seharusnya mahasiswa menjadi
seorang yang menerima informasi secara mentah begitu saja tanpa mengkaji lebih
lanjut. Di internet, banyak beredar informasi yang sama walaupun sumber yang
berbeda. Dalam informasi tersebut, mahasiswa lebih memilih membacanya sekilas
tanpa membandingkan dengan sumber-sumber yang lain, ataupun dalam buku.
Faktor
teknologi yang lain adalah, mahasiswa sekarang lebih suka menonton daripada
membaca. Menonton video melalui internet, dirasa lebih mudah ditangkap otak daripada
membaca. Akan tetapi, informasi yang didapat dari video biasanya mudah
terlupakan. Membaca memaksa kita untuk memahami, mengolah dalam otak, sehingga
menumbuhkan rasa ingatan yang kuat dan tidak mudah dilupakan.
Budaya membaca yang merupakan langkah
awal dari sebuah Negara berkembang untuk menata generasi muda bangsa yang maju
dan makmur mungkin belum muncul dari kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya
mahasiswa. Minimnya minat membaca dari kebanyakan mahasiswa Indonesia tentu
akan mempersulit keadaan yang sedemikian terpuruknya bangsa ini dari bangsa
lain atas kemajuan pendidikan hingga teknologi. Rendahnya minat membaca
mahasiswa sangat terasa bagaimana atmosfir akademisnya masih begitu lemah.
Bukan berarti menolak perkembangan teknologi informasi, namun efektifitas perjalanan
akademisi. Karena, apabila berbicara tentang akademisi pasti berbicara tentang
keilmiahan. Dan bagaimana bisa disebut ilmiah kalau mencari sebuah sumber
informasi dari internet, padahal informasi dari internet tidak ada yang
menjamin kebenaran dan keakuratan informasinya.
Berbagai
dampak yang bisa terjadi pada mahasiswa apabila minat bacanya rendah adalah
seperti, banyak mengalami
masalah dalam memahami, menguasai, meneruskan, serta menggunakan ilmu
pengetahuan serta teknologi untuk menghasilkan produk-produk berkualitas,
minimnya wawasan dan keilmuan yang terbatas akan mengkerdilkan pola pikir
sehingga mereka mudah dipengaruhi oleh berbagai doktrin dan pemahaman negatif,
kurang membaca akan menyebabkan kreatifitas seseorang tak berkembang, seperti
yang kita ketahui bahwa pola pikir kreatif akan terwujud bila yang bersangkutan
mengembangkan pola pikir serta mampu merespon lingkungan sekitar dengan cepat
dan hal ini bisa dilatih dengan kegiatan membaca. Ide-ide kreatif yang muncul
tentu bisa membuat seseorang menjadi lebih produktif atau memberikan manfaat
tak hanya bagi diri sendiri melainkan juga orang-orang di sekitarnya. Dampak bila tidak
memiliki Minat baca berikutnya adalah tidak mengetahui informasi teraktual
sehingga mengalami kesulitan untuk meningkatkan kualitas diri, ketidaktahuan
karena enggan menambah ilmu pengetahuan serta meng-upgrade diri dengan
informasi terbaru akan menimbulkan ketidakpedulian. Lambat laun hal ini akan
membuat yang bersangkutan menutup diri dan sibuk dengan dunianya sendiri serta
abai dengan lingkungan sekitarnya. Mereka
yang tak berwawasan luas cenderung akan mengalami kesulitan pada kehidupan
sosialnya, karena tak dapat berkomunikasi dengan baik karena input yang
dimilikinya tak sebanyak teman-teman di sekitarnya. Orang yang menyenangkan
dalam pergaulan pada umumnya adalah mereka yang enak diajak berdiskusi karena
memiliki pengetahuan luas atas berbagai topik. Pada efek yang lebih besar atas keengganan untuk membaca pada generasi
muda ini adalah kerugian negara yang kehilangan aset-aset penyumbang dalam
kemajuan bangsa yang berkualitas dan mempunyai produktifitas yang tinggi.
Jadi,
strategi dan upaya untuk meningkatkan minat baca di kalangan mahasiswa adalah
dengan cara para orang tua hendaknya menanamkan budaya membaca kepada
anak-anaknya sedari kecil, membiasakan diri untuk gemar membaca, memiliki
target waktu membaca dengan tempo tertentu, memanfaatkan waktu senggang untuk
membaca, menyisakan uang untuk membeli buku, dan mengikuti kelompok diskusi.
Seperti yang dikatakan Moh. Hatta, bahwa “Aku rela dipenjara asal bersama buku,
karena dengan buku aku bebas”. Selain itu, mahasiswa akan sukses dalam
kecerdasan intelektual, emosional, dan spriritual apabila sudah menguasai
berbagai macam bacaan dan mampu mengimplementasikan dalam kehidupannya
sehari-hari. Karena segala sesuatu akan mudah dicapai dengan kebiasaan, dan
kebiasaan membaca tumbuh dalam kesadaran diri masing-masing setiap mahasiswa.
Jika sudah terlanjur dewesa dan menjadi
mahasiswa yang malas membaca buku, maka akan sulit merubah kebiaasan tersebut.
Salah satu hal yang akan mendorong mahasiswa membaca biasanya karena tuntutan
tugas kuliah atau memang karena dosen yang memaksa. Minat baca mahasiswa
terbentuk dari pribadi masing – masing. Hal yang terpenting untuk menumbuhkan
minat baca mahasiswa adalah kesadaran diri dari mahasiswa tersebut. Ada
beberapa faktor yang menyebabkan mahasiswa malas untuk membaca buku. Antara
lain yaitu kurangnya imbauan dari orang tua sejak kecil, kurangnya motivasi
untuk membaca buku dan adanya smartphone yang sangat mudah untuk mencari
informasi. Sebagai mahasiswa kita harus sadar akan kebutuhan kita masing –
masing. Mahasiswa harus mampu mewujudkan bangsa dan negara untuk berkembang
menjadi lebih baik lagi, karena segala aset perubahan terdapat pada tangan
kita, seorang mahasiswa.
Mulailah kebiasaan membaca buku tanpa
harus didasari oleh keterpaksaan tugas yang diberikan, akan tetapi mulailah
membaca untuk mengenal lebih jauh wawasan dunia yang belum tergapai, karena
melalui buku, jendela dunia akan terbuka bagi siapa saja yang membukanya.
Wawasan yang luas, akan membantu kita menjadi seorang mahasiswa yang aktiv
dalam berdiskusi, menambah ilmu pengetahuan, dan dapat menjelaskan berbagai
macam teori yang akurat. Banyak hal yang bisa kita dapat dari kebiasaan membaca
buku, untuk itu dorongan dalam mencari segala informasi yang kita butuhkan bisa
kita dapat melalui tumpukan kertas yang jauh lebih banyak dibandingkan melalui
internet. Kunjungilah perpustakaan, di mana kita bisa menemukan berbagai macam
judul buku yang bahkan sama sekali belum pernah kita baca. Karena dari situlah
rasa keingintahuan kita muncul dan memaksa kita untuk mencari tahu, sehingga
menjadi wawasan yang dapat menambah ruang otak dalam hidup kita.
Daftar Pustaka
Fithrorozi.2017.Survey
UNESCO: Minat Baca Orang Indonesia Terpuruk.Terarsip dalam https://kominfo.belitungkab.go.id/2017/04/26/survey-unesco-minat-baca-orang-indonesia-terpuruk/.
Diakses pada tanggal 30 September 2018
Lailatul
Fadhilah.2017.Kurangnya Minat Baca Mahasiswa.Terarsip dalam https://www.hipwee.com/opini/kurangnya-minat-baca-mahasiswa/.
Diakses pada 30 September 2018
Erzal
Syahreza.2017.Krisis Minat Membaca Dikalangan Mahasiswa.Terarsip dalam https://lampungpro.com/post/9135/krisis-minat-membaca-dikalangan-mahasiswa.
Diakses pada 30 September 2018
Kabar
Tema.2016.”KRISIS MINAT MEMBACA”.Terarsip dalam http://kabarterma.blogspot.com/2016/04/krisis-minat-membaca.html.
Diakses pada 30 September 2018
Bimba.2016.Dampak
Bila Tidak Memiliki Minat Baca.Terarsip dalam https://bimbaaiueo.com/dampak-bila-tidak-memiliki-minat-baca-generasi-muda/.
Diakses pada 30 September 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar